Kuas bulu babi adalah kuas yang dibuat dari bulu babi asli dan masih sering digunakan karena daya serapnya sangat baik. Masalahnya, bagi Muslim, kuas ini termasuk haram dan najis berat, sehingga perlu dihindari, terutama jika digunakan untuk makanan atau aktivitas yang bersentuhan langsung dengan konsumsi harian.
Banyak orang tidak sadar karena secara fungsi, kuas ini terlihat sama seperti kuas biasa. Tanpa informasi yang jelas dari penjual, risiko salah pilih jadi sangat besar.

Kenapa Kuas Bulu Babi Masih Banyak Dipakai?
Secara teknis, bulu babi memang punya karakter yang “unggul”. Ia menyerap cairan dengan cepat dan menyebarkannya secara merata. Itu sebabnya kuas jenis ini sering dipakai untuk mengoles minyak, mentega, atau saus pada makanan.
Namun keunggulan ini tidak sebanding dengan risikonya, karena seluruh bagian babi hukumnya haram.
Ciri fungsional yang sering jadi alasan pemakaian:
-
Daya serap cairan tinggi
-
Olesan lebih rata
-
Tidak mudah kaku saat dipakai
Bagaimana Hukum Kuas Bulu Babi dalam Islam?
Dalam Islam, babi termasuk najis mughallazah, artinya najis berat. Pengharamannya tidak hanya pada daging, tetapi seluruh bagian tubuhnya, termasuk bulu.
Al-Qur’an menyebut kata daging karena itulah manfaat utama babi, namun para ulama menjelaskan bahwa penyebutan sebagian ini bermakna keseluruhan. Jadi, menggunakan kuas dari bulu babi tetap tidak dibenarkan, meskipun tidak dikonsumsi secara langsung.
Ciri Kuas Bulu Babi yang Paling Mudah Dikenali
Secara visual, kuas bulu babi sebenarnya bisa dikenali jika diperhatikan dengan teliti. Tekstur dan bentuk bulunya berbeda dengan kuas sintetis modern.
Ciri yang paling sering ditemukan:
-
Ujung bulu terbelah atau bercabang
-
Tekstur agak kaku dan terasa kasar
-
Warna cenderung krem, putih gading, atau cokelat
Sebaliknya, kuas sintetis biasanya lebih lentur, halus, dan ujungnya runcing serta seragam.
Risiko Nyata Jika Kuas Bulu Babi Digunakan untuk Makanan
Masalah terbesar bukan hanya soal bahan, tapi dampaknya. Saat kuas bulu babi digunakan untuk mengoles makanan panas atau lembap, najis bisa berpindah dan membuat makanan tersebut tidak halal.
Risiko ini sering terjadi tanpa disadari, terutama di dapur, usaha kuliner, atau penggunaan bersama.
Cara Paling Aman Menghindari Kuas Bulu Babi
Jika ragu, jangan berspekulasi. Cara paling aman adalah memilih produk yang jelas bahannya dan berasal dari produsen terpercaya.
Langkah praktis yang bisa dilakukan:
-
Pilih kuas berlabel sintetis atau non-babi
-
Perhatikan ujung bulu dan kelenturannya
-
Hindari produk tanpa informasi material yang jelas
Komitmen Kuas Tanpa Bulu Babi dari PT. Vinindo
Untuk menghindari risiko tersebut, PT. Vinindo memastikan seluruh produk kuasnya 100% tanpa bulu babi. Selain aman secara halal, kualitas kuas juga dirancang untuk pemakaian jangka panjang.
Beberapa keunggulan yang ditawarkan:
- Bulu kuas padat, rapi, dan tidak mudah rontok
- Pegangan ergonomis agar tangan tidak cepat lelah
- Kayu berkualitas tinggi dan kuat
- Bisa digunakan berulang kali tanpa menurunkan performa
Dengan memilih kuas yang tepat, pengguna tidak hanya mendapatkan hasil kerja yang maksimal, tetapi juga ketenangan karena tidak melanggar prinsip kehalalan.
Tiktok Vinindo: @vinindoofficialstore
Instagram Vinindo: @vinindo.id
Instagram D-Xplore: @dxplore.id
Instagram Vintage: @vintage_indo
Facebook: Vinindo Inti Pratama
Youtube: D-XPLORE - Building Tools
Youtube: VINTAGE - Perlengkapan Pintu Jempolan
Tokopedia
Shopee